Dari Growth ke Resilience Mindset Baru Perusahaan Menyambut 2026

Artikel ini membahas pergeseran paradigma bisnis dari fokus growth semata menuju resilience sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan menjelang 2026. Di tengah ketidakpastian global, perusahaan dituntut membangun ketangguhan organisasi, kepemimpinan adaptif, dan strategi fleksibel agar mampu bertahan sekaligus menang dalam jangka panjang.

12/24/20252 min baca

Dari Growth ke Resilience Mindset Baru Perusahaan Menyambut 2026

Selama lebih dari satu dekade, pertumbuhan (growth) menjadi mantra utama dunia bisnis. Target ekspansi agresif, peningkatan valuasi, dan skala operasi besar sering dianggap sebagai indikator keberhasilan perusahaan. Namun, menjelang 2026, lanskap bisnis global menunjukkan realitas yang berbeda. Ketidakpastian ekonomi, percepatan teknologi, tekanan regulasi, serta perubahan perilaku pasar menuntut perusahaan untuk mengadopsi mindset baru, yaitu resilience.

Mengapa Mindset Growth Saja Tidak Lagi Cukup

Mindset growth berfokus pada ekspansi, efisiensi, dan optimasi jangka pendek. Dalam kondisi pasar stabil, pendekatan ini sangat efektif. Namun, beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada growth dapat menciptakan kerentanan.

Perusahaan yang terlalu agresif mengejar pertumbuhan sering menghadapi tantangan seperti:

  • Struktur biaya yang tidak fleksibel

  • Ketergantungan pada satu sumber pendapatan

  • Burnout organisasi akibat target yang terus meningkat

  • Kerapuhan ketika terjadi krisis ekonomi atau disrupsi teknologi

Menjelang 2026, dunia bisnis dihadapkan pada dinamika yang semakin tidak terduga. Dalam konteks ini, resilience bukan berarti anti-pertumbuhan, melainkan fondasi agar pertumbuhan bisa berkelanjutan.

Resilience: Lebih dari Sekadar Bertahan

Resilience dalam konteks organisasi bukan hanya kemampuan untuk “selamat” dari krisis. Resilience adalah kapabilitas sistemik untuk menyerap guncangan, beradaptasi cepat, dan bangkit lebih kuat.

Perusahaan yang resilient memiliki karakteristik:

  • Struktur organisasi yang lincah

  • Proses pengambilan keputusan yang cepat dan berbasis data

  • Budaya kerja yang adaptif dan terbuka terhadap perubahan

  • Kepemimpinan yang tenang dan strategis di tengah tekanan

Mindset ini menggeser fokus dari ekspansi tanpa henti menjadi keseimbangan antara stabilitas, fleksibilitas, dan inovasi.

Perubahan Paradigma Strategi Bisnis Menyambut 2026

1. Dari Ekspansi Agresif ke Pertumbuhan Selektif

Alih-alih mengejar semua peluang, perusahaan resilient lebih selektif dalam memilih area pertumbuhan. Investasi difokuskan pada bisnis inti, kapabilitas strategis, dan pasar dengan potensi jangka panjang.

Pertanyaannya berubah dari “di mana kita bisa tumbuh paling cepat?” menjadi “di mana kita bisa tumbuh paling berkelanjutan?”

2. Dari Efisiensi Maksimal ke Fleksibilitas Operasional

Optimalisasi biaya tetap penting, tetapi resilience menuntut ruang fleksibilitas. Buffer operasional, diversifikasi pemasok, dan sistem kerja hybrid menjadi bagian dari strategi ketahanan. Perusahaan yang terlalu “lean” sering kali paling rentan saat terjadi gangguan.

3. Dari Perencanaan Linear ke Scenario Thinking

Strategi jangka panjang kini perlu dilengkapi dengan berbagai skenario. Pemimpin tidak hanya menyiapkan satu rencana terbaik, tetapi beberapa kemungkinan, termasuk skenario terburuk. Skenario planning membantu organisasi bereaksi lebih cepat ketika realitas tidak berjalan sesuai rencana awal.

Peran Kepemimpinan dalam Membangun Resilience

Mindset resilience harus dimulai dari puncak organisasi. C-level memegang peran krusial dalam membentuk arah, prioritas, dan budaya.

Pemimpin yang resilient:

  • Nyaman mengambil keputusan di tengah ketidakpastian

  • Transparan dalam komunikasi, terutama saat krisis

  • Mendorong pembelajaran berkelanjutan dan eksperimen terukur

  • Menempatkan manusia sebagai aset strategis, bukan sekadar sumber daya

Kepemimpinan semacam ini menciptakan rasa aman psikologis, yang memungkinkan tim berinovasi tanpa takut gagal.

Menyambut 2026, dunia bisnis tidak lagi memberi ruang bagi strategi satu dimensi. Perusahaan dituntut untuk tumbuh, tetapi juga bertahan, beradaptasi, dan berevolusi.

Bagi para pemimpin dan profesional C-level, pergeseran dari mindset growth ke resilience adalah langkah strategis. Bukan untuk memperlambat ambisi, tetapi untuk memastikan bahwa ambisi tersebut dapat diwujudkan dalam jangka panjang.

Pertanyaannya kini bukan apakah perusahaan Anda siap tumbuh, melainkan apakah perusahaan Anda cukup tangguh untuk bertahan dan menang di masa depan?